Kamis, 23 April 2009

Belajar dari Kehidupan Para Penginjil



Bahan Khotbah singkat
untuk Pembukaan HUT 62 dan HPI 152 GMIST.
Oleh : Pdt.D.J.Walandungo,S.Th.,M.Si
Bacaan : Pengkhotbah 3:1-15
Nas : Ayat 11

Sejarah penginjilan di tanah Sangihe dan Sitaro memperlihatkan suka duka. Bahkan ada beberapa peristiwa memilukan terjadi dalam tahap awal pelayanan. Ketika perahu penginjil Kelling dan temannya mendarat pertama kali di Paseng, Siau; perahu karam dan muatan mereka tenggelam ke laut. Muatan itu pasti barang-barang berharga mengingat alamat tujuan mereka adalah wilayah yang masih asing bagi mereka. Mengalami peristiwa demikian, mereka tidak patah semangat. Hari ini, kita dapat bersaksi buah pelayanan mereka.
Belajar dari kehidupan para penginjil ini, ternyata sebuah sukses dapat diraih jika kita memiliki keberanian menghadapi kesulitan hidup. Namun, acapkali kita berlaku tidak adil terhadap kehidupan ini. Ini nyata jelas dari sikap kita. Kita bagitu gembira menyambut keberhasilan; sebaliknya, kita cenderung meratapi setiap pergumulan hidup. ini jelas sikap yang tidak adil. Mengapa? Karena yang namanya kehidupan, selalu memperhadapkan kita pada dua sisi, ada susah ada senang, ada kesulitan ada kemudahan, ada masalah ada jalan keluarnya. Keduanya selalu silih berganti menjumpai kehidupan kita.
Simpulan atas fakta ini, nyata benar dari kalimat mutiara beikut ini, "Kehidupan merupakan rangkaian berbagai peristiwa, baik atau buruk." Kita semua sesungguhnya berada dalam rangkaian peristiwa.
Kitab Pengkhotbah yang menjadi bacaan kita saat ini membahasakan kenyataan ini dalam tuturan kata hikmat, "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun dibawah langit ada waktunya." Kehidupan ini memperhadapkan kita pada pelbagai kenyataan. Ada pahit, ada manis; ada suka ada duka; ada senang ada susah; begitu seterusnya. Ini realita kehidupan kita yang sesungguhnya. Sekalipun kita telah menyaksikan itu, pikiran kita acapkali menyesatkankita. Kita baegitu menyukai kesenangan dan membenci kesusahan. Padahal, kedua hal ini saling berkaitan. Kita dapat benar-benar menikmati kesenangan jika kita telah melewati kesusahan hidup. Dan kita pun benar-benar merasa susah jika kita baru saja melewati kesenangan. Kesadaran ini mesti ada pada kita agar kita dapat bersikap adil: saat senang tetap dalam kesadaran ada kesusahan; sebaliknya saat susah tetap dalam keyakinan bahwa kesenangan itu akan tiba.
Kehidupan rumah tangga pun sesungguhnya selalu ada dalam pergantian masa. Ada saat kita berada dalam kemalangan, ada saat juga kita sedang berbahagia. Ada saat kita mengalami kesakitan, ada saat juga menikmati kesehatan baik. Jika kita mengalami semuanya itu, satu hal yang harus tetap kita ingat: tidak ada perceraian! Sekali kita menikah, sampai mati kita tetap setia.
Banyak orang pada tahap awal hidup berumahtangga mendambakan kebahagiaan. Bahkan ada yang begitu meyakini bahwa pernikahan merupakan pintu kebahagiaan. Orang yang menganut pandangan ini, gampang kecewa dalam pernikahan. Mengapa ? Karena hidup ini tidak seindah puisi. Kehidupan kita selalu berada dalam bingkai : silih berganti.
Sekalipun demikian, Tuhan merancang yang terbaik bagi kita. Ayat 11 menegaskan, "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya." Kalimat ini merupakan sebuah jaminan dari Tuhan. Kehidupan ini tidak selamanya buruk dan tidak selamanya juga menyenangkan. Tetapi ada waktu Tuhan; waktu di mana Tuhan membuat segalanya menjadi indah. Coba kita renungkan jalan hidup Yesus. Saat Yesus tam;il sebagai pengajar, tidak semua orang menyukainya. Para tokoh agama dan pemimpin masyarakat begitu membencinya. Tidak berhenti sampai di situ, mereka pun membunuhnya. Tetapi akhir dari semuanya itu ? Kita melihat keindahan itu. Yesus bangkit dan mengalahkan maut. Tanpa melewati penderitaan hidup tidak mungkin kita melihat keindahan dari Tuhan.
Sekarang kita telah menyaksikan keindahan buah pekabaran Injil para zendeling tukang beberapa tahun silam. Mereka begitu berani menghadapi pahit getirnya kehidupan. Akibatnya, mereka menuai sukses. Bagaimana dengan kita ? Apakah kita memiliki keberanian untuk menghadapi setiap masalah ? Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar